Copyright (2021), konselinghiv.com, Hak Cipta Dilindungi Undang-undang.
Tes HIV adalah tes yang digunakan untuk mengetahui apakah seseorang terinfeksi virus HIV atau tidak. Tes HIV dapat dilakukan di berbagai tempat, termasuk di puskesmas sebagai fasyankes tingkat pertama.
Pemeriksaan HIV di puskesmas umumnya menggunakan metode Rapid Test Antibodi (Ab). Rapid test antibodi adalah tes yang mendeteksi keberadaan antibodi HIV dalam darah. Antibodi HIV adalah protein yang diproduksi oleh sistem kekebalan tubuh sebagai respons terhadap infeksi HIV. Rapid test antibodi dapat mendeteksi infeksi HIV dalam waktu 3-12 minggu setelah paparan virus.
Hasil rapid test dapat dilihat secara cepat, yaitu 20-30 menit setelah pasien diambil sampel darahnya dari ujung jari.
Metode tes HIV di Puskesmas sesuai dengan standar pengendalian HIV nasional, yaitu menggunakan metode Rapid Test dengan 3 Reagen yang berbeda atau yang dikenal dengan metode “Pemeriksaan Anti HIV Strategi III”.
Baca juga:
Hal tersebut mengacu pada Permenkes Nomor 74 Tahun 2014 tentang Pedoman Pelaksanaan Konseling dan Tes HIV, Permenkes Nomor 15 tahun 2015 tentang Laboratorium HIV dan Infeksi Oportunistik, dan Permenkes Nomor 52 Tahun 2017 tentang Eliminasi Penularan HIV, Sifilis, dan Hepatitis B dari Ibu ke Anak.
Untuk menjaga akurasi, penggunaan rapid test HIV dengan 3 reagen harus berdasarkan standar sebagai berikut:
Apa itu sensitifitas dan bedanya dengan spesifisitas?
Sensitivitas mengukur kemampuan tes untuk mendeteksi kasus positif HIV yang sebenarnya, sementara spesifisitas mengukur kemampuannya untuk mengidentifikasi kasus yang bukan HIV atau negatif HIV.
Adapun alur tes HIV di Puskesmas dapat dilihat pada bagan berikut:
Secara singkat, dari bagan tersebut cara interpretasi hasil tes HIV dengan 3 reagen adalah:
Berikut ini adalah contoh hasil tes HIV dengan rapid test 3 reagen di Puskesmas beserta interpretasi hasilnya:
Dari contoh di atas, seorang pasien yang datang ke layanan VCT Puskesmas dengan hasil pemeriksaan: Syphilis Negatif dan Antibodi HIV Positif.
Bagaimana penjelasan rincinya?
Jika dilakukan secara terpisah, rapid test antibodi HIV memiliki tingkat akurasi yang cukup tinggi, yaitu 92%. Namun, dikarenakan di Puskesmas menggunakan metode 3 reagen, maka tingkat akurasinya tinggi, yaitu 99%.
Baca juga:
Puskesmas, seperti telah disebutkan, menerapkan metode rapid tes dengan “Pemeriksaan HIV Strategi III” atau dengan 3 reagen, yang hasilnya dalam mayoritas kasus adalah dapat dipercaya atau valid.
Namun, perlu juga dicatat, bahwa rapid test antibodi dapat menghasilkan hasil negatif palsu pada orang yang baru terinfeksi HIV, dikarenakan terdapat kemungkinan masih berada pada masa jendela (window period). Jika diperlukan, dapat melakukan tes ulang pada waktu 3 bulan setelah merasa terpapar virus atau sejak melakukan aktivitas seksual beresiko.
Hasil tes HIV yang positif atau negatif harus dibicarakan dengan profesional medis yang kompeten. Tes HIV adalah langkah awal dalam mendiagnosis infeksi HIV. Penting untuk mendiskusikan hasil tes HIV dan pertanyaan Anda dengan tenaga medis atau konselor kesehatan yang berpengalaman.*
Ikuti artikel Konseling HIV di Google News, klik di Sini.
Konsultasikan mengenai IMS dan HIV dengan konselor terlatih Ira Fatmawati, S.Kep melalui link di bawah ini.
Copyright (2021), konselinghiv.com, Hak Cipta Dilindungi Undang-undang.